Jika suatu partai menjadikan dakwah sebagai tujuan utamanya atau partai menjadi alat untuk dakwah, maka menurut saya tidak ada yang namanya menang atau kalah dalam dakwah. Saat pemilu maupun pilkada memang ada menang atau kalah. Menang artinya berkuasa sementara kalah tidak berkuasa. Namun perjalanan sebuah dakwah tidak bisa dilihat dari menang atau kalahnya sebuah pemilu atau pilkada.
Mari kita tengok sejarah pada zaman Rasulullah saw. Rasulullah saw juga berperang, artinya menggunakan perang demi dakwah. Padahal itu sangat mengerikan, dibunuh atau membunuh. Namun tetap saja dilakukan karena ini adalah salah alat untuk dakwah. Dalam fakta sejarah bisa kita lihat bahwa Rasulullah saw beserta pasukannya bisa menang atau kalah dalam berperang, tetapi tidak ada kata kalah dalam berdakwah.
Kemenangan perang atau pemilu bagi partai dakwah memang salah satu kemenangan dakwah. Namun jika kalah perang atau kalah pemilu tidak berarti kekalahan dakwah. Dakwah akan terus berjalan meski perang atau pemilu kalah. Mengapa? Karena perang atau pemilu hanya salah satu cara untuk berdakwah.
Mengapa Harus Perang?
Bukankah tugas kita hanya untuk menyampaikan? Mengapa harus perang? Saya kira jawabannya adalah sama untuk menjawab mengapa harus melalui politik? Bukankah cukup menyampaikan dan hidayah diserahkan kepada Allah?
Jika ada orang yang dakwahnya paling berhasil, tentu saja Rasulullah saw (orang kafir pun mengakuinya), tetapi tetap saja Rasulullah saw berperang dan menguasai berbagai negara dalam rangka dakwah.
Rasulullah saw juga menggunakan berbagai strategi dan taktik lain dalam berdakwah selain perang dan politik. Artinya dakwah bukan hanya menyampaikan saja, tetapi juga harus tetap berorientasi hasil. Dakwah harus dilakukan dengan kesungguhan dan mengerahkan semua potensi baik harta dan jiwa. Dakwah juga bisa bergerak dalam berbagai bidang. Kesungguhan inilah yang namanya jihad. Bagaimana akan muncul makna jihad dalam kamus agama Islam, jika dakwah cukup menyampaikan saja? Dakwah harus membawa hasil!
Jika upaya jihad kita tidak menemukan apa yang kita harapkan, maka inilah baru yang namanya takdir Allah dan hidayah ada di tangan Allah. Tetapi kita bisa mengatakan hal ini jika kita telah berupaya semaksimal mungkin. Yang konyol adalah kita tidak berupaya maksimal tetapi langsung menyandarkan kepada Allah. Tidak sesuai dengan sunatullah yang mengharuskan ada upaya maksimal dari manusia untuk menuai hasil.
Adakah Partai Dakwah?
Mungkin yang menjadi pertanyaan kebanyakan orang ialah adakah partai dakwah? Apakah benar pengakuan suatu partai yang menyebut diri sebagai partai dakwah? Jawabannya mungkin iya mungkin tidak. Mengaku-ngaku adalah hal yang paling mudah, tetapi apakah diikuti oleh prakteknya? Kita harus melihat lebih cermat, apakah dalam pelaksanaannya sudah sesuai dengan pengakuaanya. Sekali lagi, banyak hal konyol terjadi, belum tahu apa-apa sudah memvonis.
Saya rasa adalah tidak ada adil jika kita hanya melihat partai saja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat banyak kelompok yang hadir dengan mengusung dakwah. Kita sering membedakan kelompok dan partai, padahal sama saja. Hanya saja kita sering menghubungkan partai untuk masalah politik. Memang betul dalam kosa kata saat ini, partai dihubungkan dengan aktivitas politik dalam sistem demokrasi. Namun tetap saja kelompok atau organisasi untuk mengusung tujuan tertentu.
Jika mau adil, kita juga perlu mempertanyakan eksistensi kelompok atau organisasi yang hadir di tengah masyarakat. Apakah betul mereka untuk dakwah? Apakah mereka bukan demi uang, demi kekuasaan, demi popularitas, atau demi rasa hormat? Bisa saja mereka mengaku demi dakwah Islam, padahal hanya kedok semata. Jadi mau partai politik atau bukan, jika kita bicara masalah motif, bisa saja macam-macam.
Semua orang, semua organisasi, semua partai, atau kelompok lainnya bisa mengaku demi dakwah atau bukan. Jika kita ingin mengetahui apakah suatu kelompok itu untuk dakwah atau bukan, saya kira harus melalui pengetahuan yang memadai. Jangan seperti orang dungu atau fasik, dengan sedikit berita atau kabar burung saja sudah langsung memberikan vonis. Carilah informasi yang benar dan memadai sebelum menilai sesuatu, sebab penilaian salah akan merugikan kita. Lebih parah lagi, sudah salah kita menyebarkannya pula.
Bukankah Akan Memunculkan Fanatisme?
Ada orang yang sinis, menuduh fanatisme sebagai fasis. Sebuah tuduhan yang konyol. Fanatisme adalah kayakinan terhadap ideologi yang kita pegang. Dan ini tidak masalah dan bahkan harus. Justru orang yang tidak punya keyakinan terhadap ideologi berarti dia tidak punya agama. Saya yakin dengan Islam 100%, tanpa ragu sedikit pun dan yang tidak masuk Islam memang sesat. Itu menurut saya yang yakin bahwa agama yang benar (bukan hanya baik) adalah Islam. Mungkin menurut mereka yang beragama lain, saya itu sesat, yah wajar saja karena keyakinannya yang berbeda.
Seorang kader akan memperjuangkan partainya karena dia yakin bahwa partainya akan membawa kepada kebaikan. Jika dia menganggap bahwa partainya terbaik, itu juga wajar. Jika dia fanatik dengan partainya, itu juga wajar. Justru yang perlu dipertanyakan ialah seseorang yang mendukung suatu partai tetapi tidak yakin dengan partainya akan membawa kebaikan. Berarti ada motif lain mengapa dia mendukung partai tersebut.
Fanatisme adalah sesuatu yang wajar, karena orang memang berbeda-beda. Kita tidak mungkin menghilangkan fanatisme. Yang penting ialah bagaimana kita menyikapi fanatisme dengan benar. Adalah mimpi disiang bolong jika kita ingin menghapus perbedaan di muka bumi. Ada ideologi yang berbeda, ada pendapat yang berbeda, dan ada partai yang berbeda (kalau semua partai sama, mengapa tidak gabung saja?). Anda silahkan memilih yang mana dan silahkan tanggung resikonya sendiri. Saat Anda tidak memilih, berarti Anda membentuk partai baru tanpa nama yang terdiri dari orang-orang yang tidak memilih atau golput. Jadi, Anda sebenarnya selalu memilih sesuai dengan keyakinan Anda, dan semua ada resikonya.
Mengapa Tidak Memilih Partai Dakwah?
Jika memang ada sebuah partai dakwah (dan memang ada), tentu ada yang memilih atau tidak. Banyak alasan mengapa orang tidak memilih partai dakwah. Berikut diantaranya:
- Tidak tahu.
- Tidak percaya.
- Musuh dakwah. Ini adalah orang-orang yang merasa dirugikan oleh dakwah.
Apakah Anda memilih partai yang mengaku partai dakwah? Jika tidak, semoga bukan karena alasan nomor 3.
Oh ya, apa yang saya tulis hanya pendapat pribadi saya. Kalau salah berarti kesalahan saya pribadi, bukan suatu golongan, bukan pula suatu partai. Saya hanya mengajak kita untuk tetap berpikir positif untuk masalah politik.
Saya adalah pengamat politik yang tidak pernah masuk TV. Kapan yah sebuah TV mengundang saya?



