Secara kebetulan, adik saya memindahkan chanel di Trans TV yang sedang menayangkan acara Insert, tanggal 22 Agustus 2008 jam 17:30. Saat itu membahas pernikahan natara selebirits dengan “orang biasa”. Saya tidak akan membahas tentang pernikahan semacam ini, namun saya merasa aneh mengapa kita, yang bukan selebirits di sebut “orang biasa saja”? Apakah seleberitis memiliki “kasta” lebih tinggi.
OK, saya tahu jika mereka –pengelola acara tersebut– membaca tulisan ini, mereka akan berdalih tidak bermaksud merendahkan non selebiritis. Namun kenapa pemilihan katanya seperti itu? Kenapa tidak dikatakan “non selebritis” atau “bukan selebirits”? Kenapa disebut “orang biasa-biasa”? Apakah selebirits atau artis orang yang luar biasa sedangkan non selebirits tidak memiliki kelebihan?
Please dech…. Mengapa ada kesan selebritis lebih baik dari non selebritis? Popularitas bukan tanda orang itu lebih baik. Jika popularitas sebagai tanda orang tersebut lebih baik? Wah saat ini Riyan akan menjadi orang termasuk paling baik. Atau para koruptor yang tiba2 namanya melambung karena tertangkap KPK?
Jangan-jangan memang sudah seperti ini mental bangsaku ini. Secara jujur banyak anak-anak ABG (baik anak baru gede maupun angkatan babe gue) yang lebih mengidolakan selebritis dari pada Nabi Muhammad saw. Menyedihkan memang? Saya terlalu berlebihan? Saya tidak mengatakan semua ABG, saya yakin banyak diantara ABG yang memiliki akhlaq mulia, tetapi tidak sedikit (artinya banyak juga) ABG yang lebih mengidolakan selebirits ketimbang nabinya.
Mau bukti? Banyak akh, silahkan buka mata. Banyak ABG yang bersedia meniru atau mencontoh selebirits idolanya dari pada mencontoh Nabi saw. Banyak yang mau meninggalkan shalat yang wajib demi menonton idolanya manggung. Coba saja perhatikan, menurut salah seorang pemilikĀ EO terbesar di Indonesia, para penonton sering datang ke tempat pertunjukan jauh-jauh sebelum acara dimulai untuk antri. Acara malam, tetapi sejak pagi sudah datang, mereka antri. Dijamin banyak yang tidak shalat.
Apa tindakan kita?
Bentengi keluarga Anda. Tanamkan akidah yang kuat. Jika akidah sudah tertanam kuat, akhlaq mulia secara otomatis akan mengikuti. Jangan abaikan dengan pendidikan agama keluarga. Kita harus menanamkan pendidikan agama sejak dini. Memang sulit mengubah anak yang sudah beranjak ABG, tetapi jika kita mendidikanya sejak dini, insya Allah dia akan memiliki benteng yang kuat dan tidak akan mudah terpengaruh oleh isme-isme yang bertentangan dengan agama.
Mungkin ada yang mengatakan kalau saya berlebihan atau terlalu perasa. Tidak apa-apa, saya memang merasa seperti ini. Kenapa orang lain banyak yang tidak tersinggung? Mungkin memang mereka sudah merasa lebih rendah dari selebritis. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa manusia itu sama, yang membedakan hanyalah ketakwaanya saja.



